When I’m Forty (part 1)

Prologue :
It’s been a while since my last post here. Kali ini, posting mengenai bagaimana aku memproyeksikan diriku saat aku berumur empat puluh tahun kelak. You should try this, it’s a good thing to have some guidelines of your own life. Post ini pertama kali dipublish di blog FS ku (yang kini tak pernah terurus lagi) sekitar awal tahun 2006 dan tidak ada pengeditan kembali saat di-republish di notes ini. Hope u can enjoy it!
^^

……….::::::::::|||||~~|||||::::::::::……….
Hari ini, tanggal 4 februari 2026, ulang tahunku yang ke-40. Aku dan istriku merayakan di rumahku di Kaliurang bersama Ibu, Ayah, dan kerabat-kerabat terdekat. Rumah yang berdiri sejak 15 tahun lalu itu masih tampak sangat kokoh dan baru, dikelilingi rerimbunan pohon yang aku tanam sendiri sejak rumah itu selesai dibangun. Rumah ini adalah hasil jerih payahku di bidang IT dan seluler yang telah aku rintis semenjak masih kuliah di STAN. Karena tidak mungkin bila aku hanya mengandalkan gajiku sebagai Pegawai Negeri Sipil Departemen Keuangan untuk membangun rumah senyaman ini. Ukurannya luas, cukup untuk menampung beberapa orang, yang memang aku cadangkan bila ada kerabat atau partner bisnis yang datang berkunjung, dengan taman disekeliling rumah, pohon buah-buahan (karena memang aku sangat menyukai buah-buahan), sebuah gazebo di tengan taman, tempat aku bersantai bersama anak dan istriku.

Aku juga memiliki 2 buah rumah lagi, satu di Gedangan, Sentolo, di tanah milik ayahku, dan di Kota jogjakarta sendiri. Rumah yang di sentolo aku khususkan untuk menampung mereka yang benar-benar membutuhkan tempat tinggal namun keadaan finansial mereka tidak memungkinkan untuk mendapatkannya. Dan itu gratis, karena aku pernah mengalami masa-masa sulit dimana tidak memiliki rumah, dan harus menumpang di rumah teman bapak dan ibuku. Aku yakin, bahwa di setiap rupiah rezeqi yang kita dapatkan, disana ada rezeqi orang lain. Kita diberikan kepercayaan oleh Allah untuk menyampaikan kepada mereka. Ya memang rumah ini tak begitu megah, tapi insya Allah pantas untuk dihuni. Sejak berdiri 10 tahun yang lalu, rumah ini telah dihuni olah 4 keluarga, dan alhamdulillah sekarang keadaan mereka yang lebih baik. Dan bahkan keluarga pertama yang menempati rumah itu kini telah membangun 2 rumah, satu untuk ditempati sendiri, dan satunya lagi dikhususkan untuk membantu mereka yang kekurangan, seperti rumahku itu. Mereka juga ingin membantu orang lain, karena meraka dulu juga pernah mendapatkan hal yang sama. Subhanallah, semoga hal ini mampu merangsang orang lain utnuk berbuat hal yang sama atau bahkan lebih baik.

Sedang rumahku yang di jogja, berfungsi sebagai rumah singgahku bila aku sedang ada keperluan agak lama di jogja. Selain itu, tempat itu juga aku gunakan sebagai tempat kost mahasiswa, tapi untuk mereka yang lemah secara finansial. Harganya sangat murah bila dibandingkan tempat lain, bahkan aku gratiskan bila benar-benar tidak mampu membayar. Ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk ngekost di tempatku, hal ini untuk menjaga agar fasilitas ini diterima oleh mereka yang benar-benar berhak mendapatkannya.

Anak-anakku kini telah beranjak dewasa, si sulung yang kini telah berusia 13 tahun dan si bungsu yang berselisih 3 tahun dari kakaknya. Ya kadang memang mereka bertengkar, tapi aku dan istriku akan dengan mudah mendamaikan mereka. Kami dekat dengan anak-anak, karena kami menempatkan diri sebagai sahabat sekaligus orang tua bagi mereka, bukan sebagai pengawas. Aku sendiri sejak sma dikenal sebagai orang yang enak diajak curhat, berkeluh kesah (walau sebenarnya yang lebih pantas dikeluhkesahi adalah Allah swt. :>) dan (bila diperlukan) memberikan solusi. Dan istriku adalah figur seorang ibu yang mampu menenangkan dan memenangkan hati anak-anak (termasuk suaminya, heheheh), wanita yang sabar, agamanya juga baik, memakai jilbab, dan kacamata minus yang selalu setia ada di sana menambah pesona istriku. Walau kami telah menikah hampir 15 tahun, tapi rasanya masih seperti masa-masa pacaran saja. Orang-orang yang belum mengenal kami sering mengira bahwa kami ini pengantin baru saja. Ya memang aku akui kami masih tampak muda di usia kami yang sudah kepala empat ini. Aku masih aktif berolahraga, bahkan 5 tahun terakhir ini aku mengasuh klub bola voli di jogja untuk menampung anak-anak muda yang tertarik. Memang dari masa-masa SMA dulu aku senang bermain voli, bukan karena aku tak bisa olahraga lain, namun ada sesuatu di voli yang membuatku addicted. Sekarangpun masih rutin paling tidak satu minggu sekali aku bermain voli bersama rekan-rekan kantorku. Akulah yang menyebabkan rekan-rekan kantorku jadi gemar voli juga. Bahkan di kanwil kami, ada turnamen bola voli antar KPP setiap tahun, dan biasanya pemenangnya adalah KPP-ku.hehehehe.

Seperti disebutkan diatas, aku bekerja di Departemen Keuangan selepas lulus dari Prodip III Perpajakan STAN. Kuliah disana tiga tahun memberikanku berbagai pengalaman, dari yang menyenangkan sampai menyakitkan, memberikanku kesempatan bertemu berbagai orang, yang ternyata pada akhirnya mempengaruhi jalan hidupku. Seusai lulus dari STAN, aku juga mengambil program sarjana di Fakultas Teknologi Informasi di sebuah perguruan tinggi. Buatku, kuliah lagi bukan semata-mata untuk mengejar jenjang karir atau kenaikan pangkat, namun lebih untuk menjaga kualitas diri,idealisme, pola pikir, semangat, wawasan kita. Banyak hal yang kita jarang kita temukan dan rasakan bila telah bekerja, hal-hal yang ada pada masa-masa kuliah.

(to be continued….)