Tips Berpergian dengan Airsoftgun

Akhir bulan April lalu saya dinas ke Jakarta selama beberapa hari, ceritanya saya ditugaskan untuk memperbaharui konten situs organisasi yang memang perlu ditata ulang isinya. Jadi kalau anda berkunjung ke situs instansi saya, anda akan menemui kerapihan konten yang tidak ada sebelumnya (warning: promotion detected!).

Dan kebetulan beberapa waktu sebelumnya, saya berkesempatan menambah koleksi airsoftgun kesayangan, kali ini KSC G-Series G19; secondhand tentunya. Unit ini saya dapatkan via marketplace si ijo kemudian saya kirimkan ke Jogja; berharap unit sampai di rumah mertua sebelum saya berangkat kembali ke medan laga di Sampit. Namun harapan tak seindah kenyataan, barang tiba saat saya sudah dalam perjalanan menuju Sampit. Akhirnya saya minta tolong ipar untuk mengirimkan saja unitnya ke kawan di Jakarta agar bisa saya hand carry via Jakarta pada saat dinas.

Sesungguhnya sudah lama saya ngidam Glock Series. Selain karena tampilannya yang keren, KSC G-Series pada beberapa kenalan saya terbilang awet meski rutin dipakai sukir. Namun beberapa waktu terakhir, unit baru agak susah ditemui di pasar. Beberapa kawan yang biasanya memiliki stok berlimpah sekarang mengeluh susah memasukkan barang dari luar negeri. Katanya sekarang peredaran diperketat, apalagi banyak airsofter yang tidak mendaftarkan unitnya dan tidak memiliki KTA Perbakin. Dalam kasus unit saya, saya segera meregisterkan unit saya ke klub tempat saya bernaung (Garuda) dengan menyertakan informasi mengenai tipe dan Serial Number unit yang saya miliki. Hal ini untuk memudahkan saya membawa unit saat saya berpergian nantinya.

 

Pada hari Sabtu (05/5), saya berangkat kembali menuju Sampit via SHIA (Soekarno-Hatta International Airport). Saya berangkat dari hotel lebih awal, mengetahui bahwa saya harus melakukan beberapa prosedur tambahan untuk membawa airsoft unit ke dalam penerbangan. Koper berisi airsoft unit telah saya pisahkan sejak packing di hotel, tidak bercampur dengan koper berisi barang-barang lain. Setibanya di bandara, saya langsung menuju terminal keberangkatan. Sebelum masuk, saya sudah lapor kepada petugas keamanan bandara (AvSec) bahwa saya membawa unit airsoft. Saya ulangi kembali informasi tersebut kepada petugas sesaat sebelum koper berisi unit saya lewatkan dalam mesin pemindaian XRay, karena saya tidak ingin rekan-rekan petugas AvSec bertanya lebih dulu kepada saya. Setelah saya dan semua barang melewati mesin pemindaian, saya masih melihat petugas kebingungan menangani unit airsoft saya, sehingga saya dekati dan saya sampaikan bahwa saya akan melakukan check-in terlebih dahulu kemudian kembali lagi ke petugas tersebut untuk nantinya bersama-sama ke loket security items maskapai penerbangan saya.

Kemudian saya check-in dan memasukkan bagasi dengan lancar, sembari memastikan bahwa penerbangan masih on schedule. Selesai check-in, saya kembali ke petugas tersebut dan beliau mengantarkan saya ke loket SecIt maskapai NAM Air. Di loket tersebut, saya menunjukkan boarding pass,  KTA (Kartu Tanda Anggota) Klub Perbakin dan SKU (Surat Kepemilikan Unit) saya untuk dimasukkan ke dalam formulir Security Item. Saya menunjukkan unit dan saya pastikan di depan petugas bahwa magasin dalam kondisi kosong, baik peluru maupun gasnya.

That’s it! Urusan selesai di bandara Cengkareng. Setibanya di bandara H. Asan Sampit, saya langsung nyamperin petugas NAM Air yang kebetulan saya lihat membawa koper berisi airsoftgun saya dan sedang terlihat kebingungan mencari pemilik koper tersebut (di bandara Sampit ndak ada loket Security Item di terminal kedatangan). Formulir diminta dan koper diserahkan kembali ke saya. Gampang kan?

Jadi summary dari tips berpergian membawa airsoftgun adalah:

  1. Lengkapi persyaratan dokumen unit (KTA dan SKU).
  2. Kosongkan bb dan gas dari magasin.
  3. Pisahkan kemasan unit dari barang bawaan lain.
  4. Proaktif terhadap petugas AvSec.
  5. Smile. (ini yang terpenting!)

Semoga tips ini berguna bagi rekan-rekan yang hendak berpergian membawa unit airsoftgun-nya. Stay Focus, Stay Safe.

RTFM!

RTFM adalah singkatan dari Read The F*ckin’ Manual! Frasa ini dulu pertama kali saya temui saat sering berselancar di forum-forum hacking, kala seorang newbie bertanya mengenai sebuah masalah mengenai penggunaan tools atau program atau hardware yang sejatinya sudah tercantum solusinya dalam manual/guideline/panduan. RTFM merupakan bentuk kegemasan sekaligus keheranan akan minimnya upaya untuk memahami panduannya terlebih dahulu baru bertanya apabila masih belum ketemu solusinya.

Keengganan untuk membaca manual juga menjangkiti saya dan hampir saya bertanya kemana-mana. Jadi ceritanya saya sedang dalam proses migrasi salah satu project situs saya di Fiskus.ID.

Sebelumnya Fiskus.ID saya host pada layanan managed wordpress hosting yang disediakan oleh WPOven.Provider ini berbasis di India, tepatnya Kalkutta kalau tidak salah. Setahun lebih beberapa bulan saya menikmati layanan mereka, kini tiba saatnya untuk menasionalisasikan project ini kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Maka saya siapkanlah environment cloud melalui layanan KilatIron. Layanan ini adalah kerjasama antara CloudKilat dengan Jelastic yang menghasilkan produk SaaS. Saya memilih CloudKilat karena saya pernah merasakan support yang bagus saat menjadi klien shared hostingnya, dan Jelastic merupakan nama besar di dunia perserveran.

Nah pengalaman terakhir migrasi project ke Jelastic adalah saat migrasi UkhtiShalihah.ID yang menggunakan platform CPanel, sedangkan saat ini saya tidak mengetahui platform apa yang dipakai oleh WPOven (sepertinya plesk). Saat itu saya menggunakan plugin wordpress All In One Migration, kali ini dengan plugin yang sama dengan pedenya saya lakukan tahap demi tahap migrasinya. Setelah selesai, saya cek struktur website intact, saya menghela nafas dan berpikir semuanya selesai saat itu juga.

Beberapa hari kemudian, rekan admin Fiskus.ID bilang melalui grup WhatsApp kalau semua tautan eksternal (public accessible) menghasilkan error 404. Saya pikir, “Ah, palingan masalah permalinks aja ini.”. I was wrong!

Ternyata migrasi

Mungkin kalau jaman now, RTFM sudah bergeser menjadi RYGR, alias Read Your Googling Results!