Sudahkah Kantormu Melek Data?

Sehari-hari, kita dikelilingi oleh data. Pukul berapa kita berangkat kerja, berapa lama di jalan, dan rute apa yang kita ambil saat berangkat. Pun begitu saat kita pulang, ada data yang menyertainya. Di kantor saya menemui data Wajib Pajak, mulai dari demografinya, tingkat kepatuhannya, kegiatan pengawasannya, and so on. Dalam level kantor, ditemui data berapa jumlah tamu datang, tujuan mereka datang, berapa lama waktu tunggu, berapa surat yang kempos, dan lain-lain. Tidak semua Kantor Pelayanan Pajak (KPP) menyadari nilai data yang ada di genggaman tangan mereka, maka dari itu respon terhadapnya sangatlah bervariasi. Ada KPP yang masih abai dengan data, yang penting IKU tercapai, business as usual, bahkan saat lingkungan di skeliling organisasi berubah sangat cepat dan menuntut adaptasi yang ekstrim. Namun ada juga kantor yang telah memiliki awareness sangat tinggi dengan data, sehingga seringkali menjadi pemicu keputusan-keputusan strategis di kantor tersebut.

Menurut Christopher S. Penn (www.christopherspenn.com), salah satu pakar Marketing dan Data Science, ada lima tahapan evolusi dalam menuju Data-Driven companies (dapat diterapkan juga ke kantor atau bahkan personal).

#1 Data-Resistant : Tahap dimana organisasi meyakini bahwa data tidak dinilai penting. Biasanya ditandai dengan kalimat, “Tahun kemarin juga begini kok kegiatannya.”. Penyebab organisasi berada pada tahap ini bisa jadi karena pengukapan data mungkin akan menunjukkan kesalahan strategi manajemen, atau dapat pula  menunjukkan keburukan kinerja organsiasi secara keseluruhan. Insting leadership/kepemimpinan sangat mendominasi organisasi di level ini.

#2 Data-Curious: Organisasi mengetahui ada data dalam area mereka, dan memahami bahwa data tersebut bernilai, meski saat itu seberapa pentingnya nilai data tersebut belum diketahui. Organisasi pada tahap ini fokus pada data collection, entry sebanyak-banyaknya. Kalau di DJP ini itu periode implementasi SIP, dimana semua data yang ada di DJP di-entry semua ke dalam database, dibuatkan banyak tabel untuk menampung semua data yang direkam, tanpa filter dan pemilahan mana yang penting dan tidak.

#3 Data-Aware : Organisasi pada tahapan ini berusahan menggali value dari data yang mereka miliki. Organisasi fokus pada analisa, sehingga dpat menghasilkan kesimpulan, “Ok, cara yang tahun lalu salah, let’s not do that again.” dan kemudian “let’s do more than that.”. Banyak Organisasi yang terjebak pada tahapan ini dengan mencukupkan diri mencapai target IKU ataupun memuaskan stakeholder, memperhitungkan sumber daya yang harus dialokasikan untuk ke tahapan berikutnya rasanya terlalu besar, yang akan menempatkan jabatan dan posisi manajemen dalam risiko. Data hanya digunakan dalam rangka pemenuhan target-target antara; sebuah kemenangan taktis, bukan kemenangan strategis; win the battle, but not the war.

#4 Data-Savvy : Tahap Organisasi mampu empowering data sebagai informasi taktis menjadi informasi strategis. Membangun mindset data literacy, menyiapkan infrastruktur dan sumber daya untuk membangun manajemen data dari semua bagian dalam warehouse yang terintegrasi sehingga interoperable dan reusable. Mampu menggunakan software dan tool statistik untuk experimental design, mengeksplorasi dan analisis data. Fokus pengambilan keputusan datanya meningkat dari sekadar “what/when/how did it happen?” menjadi fungsi diagnosing, yaitu “why did it happen?”.

#5 Data-Driven : Inilah tahap organisasi masa depan, menjadikan data sebagai aset strategis organisasi yang mampu diberdayakan untuk continuous improvement dan innovation. Pada setiap bagian organisasi sudah terdapat PIC data yang mengumpulkan dan menyajikan analisis data. Fokus pengambilan keputusannya semakin challenging menjadi prescribing, predicting, innovating hingga anticipating by data terhadap ATHG seperti “what will happen?”, “how will we make it happen?” hingga “what can we make happen?”. Pada tahap ini juga sudah mencapai chemistry antara kapasitas human driven dari naluri/insting leadership (seperti tahap data-resistant) tetapi disertai data driven yang kuat berbasis teknologi informasi (big data, machine learning, dan artificial intelligence).

Jadi, sampai dimana tahapan melek-data kantor anda? 🙂
(20210220, Iwandanu, disarikan dan disunting dari berbagai sumber)

Dimas Iwandanu
Dimas Iwandanu on EmailDimas Iwandanu on FacebookDimas Iwandanu on GoogleDimas Iwandanu on Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *