Biaya Bunga Utang Indonesia Mencekik?

Sudah berkali kali pakar ekonomi mengkritik yield surat utang Indonesia yang dianggap berlebihan.

Surat utang Indonesia disebut-sebut menawarkan yield yang kelewat tinggi jika dibandingkan dengan negara2 tetangga.

Benarkah demikian?

Berdasarkan data per 23 Desember 2020, yield surat Utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) bertenor 10 tahun berada di level 0.918%, sementara yield SUN Valas pemerintah Indonesia dengan tenor 10 tahun di level 1.99%. Ada spread sekitar 107 bps yang menunjukkan country risk. Indonesia. Sebagai gambaran rating AS adalah AA+ sementara rating Indonesia adalah BBB. Spread tersebut tidak beda jauh dengan negara lain yg memiliki rating setara.

Lho kok banyak pakar bilang yieldnya kegedean, apakah pakar tersebut salah data?

Tidak. Pak Rizal ramli dkk tidak salah data. Yang beliau bandingkan adalah SUN dalam local currency (LCY), mata uang rupiah, yg berada pada level 6.08%. Beliau bandingkan yieldnya jika malaysia menerbitkan surat utang berdenominasi Ringgit atau jika Philiipina menerbitkan surat utang dalam Peso.

Perbedaan yield (tingkat bunga yang diberikan) antara SUN Valas dan SUN Rupiah sebesar 4% (6,08 % vs 1,99%) itu dikenal sebagai currency risk. Dan ini banyak faktor yang mempengaruhi.

Menurut saya tidak fair membandingkan SUN dalam local currency secara langsung tanpa juga melihat SUN dalam mata uang internasional. Malah lebih fair jika perbandingannya dilakukan antar obligasi negara dengan mata uang yang sama, tenor sama, saat penerbitan yang relatif berdekatan negara dengan rating sama.

Apakah pandangan pak RR tidak perlu didengarkan?

Justru harus didengarkan. Sebagai pengingat bahwa kita memiliki masalah dengan currency risk. Spread sebesar 4% itu terlalu jauh. Agak sulit diterima jika yield surat utang pemerintah yang konon merupakan asset keuangan bebas risiko ( riskfree asset) justru lebih tinggi dibanding bunga deposito.

Sebagai gambaran suku bunga BI REPO sebesar 3,75% sementara bunga penjaminan LPS adalah 4,5%. Jika suku bunga SUN rupiah berada di 6,08% maka memang masih ada selisih 1,58% dibanding bunga simpanan maksimal yg dijamin oleh LPS. Idealnya surat utang negara bunganya lebih kecil atau maksimal setara Repo Bank sentral atau dalam kasus Indonesia 3,75%.

Kita juga tidak bisa membandingkan langsung dengan Malaysia karena suku Bunga Repo bank sentralnya hanya 1, 75%. Ada selisih 2% jika sama2 menggunakan REPO bank Sentral sebagai acuan. Atau dengan Philipina yg suku bunga bank Sentralnya 2% apalagi Thailand yang suku bunga bank sentralnya 0,5%.

Bahasa sederhananya (silahkan jika disebut over simplification) jika Indonesia menawarkan SUN rupiah tenor 10 tahun dengan yield 3,75 % itu setara jika Malaysia menerbitkan SUN Ringgit tenor 10 tahun dengan yield 1,75%.

Jadi apakah suku bunga SUN Indonesia ketinggian ?

Saya berpendapat bahwa untuk SUN valas tidak ketinggian tetapi untuk SUN Rupiah memang harus diakui masih tinggi dan bisa diturunkan.

Namun hal itu dipengaruhi banyak faktor antara lain suku bunga Repo bank sentral yang relatif lebih tinggi dibanding negara lain inflasi, defisit anggaran, CAD dsb.

Selain itu spread antara yield SUN rupiah vs suku bunga BI masih ada selisih 2,33% yang menurut pendapat penulis masih bisa diturunkan.

Artinya perbandingan harus dilakukan secara hati2 agar tepat dan obyektif.

Hal lain yang juga perlu diapresiasi adalah penurunan yield antara utang lama dan utang baru. Sudah jadi rahasia umum bahwa pemerintah menerbitkan SUN baru untuk membayar SUN yang jatuh tempo. Trend yang terjadi adalah SUN baru itu menawarkan yield lebih rendah dibanding SUN yg jatuh tempo. Artinya beban bunga utangnya untuk utang yg sama makin kecil.

Tapi mengapa biaya bunga yang dibayar APBN makin besar jika memang benar terjadi trend penurunan yield SUN ?

Penjelasannya mudah.

Jika Negara punya utang Rp 5000 T dengan bunga rata2 sebesar 7% maka biaya bunganya Rp 350 T.
Jika tahun berikutnya utang negara bertambah Rp 1000 T menjadi Rp 6000 T dan suku bunga berhasil diturunkan menjadi 6,8% maka biaya bunganya Rp 408 T.
Artinya meski ada penurunan suku bunga tetapi tetap terjadi kenaikan biaya bunga karena naiknya jumlah utang.

Kenapa jumlah utang naik? Ya karena defisit Anggaran.

Kesimpulan akhir apakah bunga utang mencekik negeri ini saya serahkan kepada pembaca untuk menilainya.

WP
Di pojokan kalibata
08022021

Dimas Iwandanu
Dimas Iwandanu on EmailDimas Iwandanu on FacebookDimas Iwandanu on GoogleDimas Iwandanu on Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *